AYAHAN


Saat mampir Kolese Bellarminus Mrican Yogyakarta untuk mengambil buku terjemahan baru dari Rm Marwan, SJ yang berjudul Berdoa Dengan Jujur. Seperti biasa kami ditawari makan, di meja makan itu ada seorang Romo yang sedang makan dan dengan ramah pula menawari kami makan.

Di meja makan ini ada kami berdua, Rm. Marwan dan Romo yang belum kami kenali ini. Kami berdua berkenalan, dan ketika tahu saya bekerja bersama Rm. Sindhunata, SJ arah pembicaraan kami menjadi kebudayaan dan novel. Hingga tak sengaja pula ia menyebut sebagai penulis Soegija, buku yang sempat menjadi film di tahun 2013. Ia dengan ringan pula menyebut judul-judul novel yang tentu belum saya kenali.

Hingga ia bercerita tahun lalu membuat pementasan bersama Ayu Utami yang intinya tampil menyanyikan lagu Maria berbahasa Latin dengan aransemen Bali. Penampilan yang menurutnya mendapat banyak pujian ini justru ditampilkan dengan cuma-cuma oleh Ayu Utami yang ketika itu justru sedang padat untuk syuting film. “Ayahan” begitu istilah Ayu Utami, memberikan sesuatu dengan totalitas, pemberian itu untuk Tuhan.

“Dari penampilan itu Ayu Utami mengaku pada wawancara bersama KOMPAS kalau guru bahasa Latin-nya adalah Rm. Budi Subanar, padahal saya tidak ngerti bahasa Latin,”

Akhirnya Romo ini menyebut namanya, sudah lebih 1 jam ia bercerita banyak hal dan baru kami tahu namanya adalah Rm. Budi Subanar, SJ. Ini tentu kali pertama kami berjumpa, namun namanya tidak asing lagi, Romo yang sehari-hari menjadi dosen di Program Paskasarjana Ilmu Religi dan Budaya ini memang terkenal. Jika Rm. Sindhunata berkebudayaan bersama seniman-seniman kerakyatan, Rm. Banar berkebudayaan melalui jalur akademisi, membuat festival-festival kebudayaan, pentas kebudayaan untuk KPK dan lainnya.

Rendah Hati

Terlepas dari jalur yang dipilih para Romo hebat ini, istilah “Ayahan” rasanya melekat pada para Jesuit yang saya temui. Bagaimana bisa seorang Romo yang cukup terkenal dan rata-rata bergelar doktor bisa bercerita dengan ringan bersama kami yang masih muda dan minim pengalaman, dari cara ngobrol saja kadang satu dengan yang lainnya sudah menjaga jarak karena kasta pendidikan yang berbeda. Saya meyakini bahwa orang-orang yang pandai namun rendah hati selalu menurunkan level pembicaraan begitu jauh demi ‘melayani’ anak muda yang sekali lagi masih minim ilmu dan pengalaman dibanding dengan mereka.

Hal yang sama juga saya rasakan dari Rm. Sindhunata, siapa yang tidak kenal penulis Anak Bajang Menggiring Angin ini. Puluhan buku sudah ia tulis, ratusan analisis bola telah ia bagikan, puluhan penghargaan telah ia terima, tetapi kehebatannya itu tak pernah tampak dalam setiap perjumpaan. Misalnya, saya tidak yakin Rm. Sindhu merasa tidak percaya diri ketika harus berbicara di depan acara anak muda, tetapi ternyata sungguh ia merasa demikian, dan dengan rendah hati ia mengakui kekurangannya itu. Dari hal ini saya paham, kadang saat menjadi hebat seseorang takut mengakui secuil kelemahannya. Namun kelemahan tetaplah kelemahan yang juga menjadi kekayaan jika diakui.

Nyah nyoh

Nyah nyoh adalah istilah Jawa, kata yang diucapkan ketika memberikan sesuatu. “Nyoh” diucapkan ketika mengulurkan sepotong roti untuk teman misalnya. Nyah nyoh bisa diartikan seseorang yang senang berbagi tanpa pamrih.

Namun apakah cukup dengan berbagi saja? Berbagi yang saya maksud adalah berbagi tanpa batas, tidak hanya barang atau ilmu tapi segala hal yang bisa dibagikan pada orang lain, termasuk kesanggupan.

Pada level tertentu, berbagi saja sudah cukup baik. Namun bagi sebagian orang yang To Be More (melakukan yang lebih), berbagi saja tidak cukup. Berbagi juga perlu dilakukan dengan total.

Pengalaman ini saya dapatkan dari Rm. John, SJ. Sejak masa kuliah saya selalu prihatin pada anak muda yang memiliki potensi besar namun kurang didampingi dengan baik, dan karena itu saya berkomitmen untuk ‘berbagi’ pada orang muda. Dan salah satu cara adalah dengan pelatihan.

Ketika awal kami berkenalan di Magis 2013, setiap perjumpaan selalu ia membagikan pengalamannya ‘berlatih.’ Jika yang lain terkesan menutupi bagaimana proses dibentuk menjadi hebat, Rm. John justru bercerita hingga hal-hal yang harusnya dirahasikannya. Selain berbagi energi tanpa sekat itu, ia selalu membagikan apa yang ia punya dengan total pula.

Ia sempat memberikan banyak, banyak sekali dokumen mengenai pelatihan dan retret. Disini saya merasakan, kadang saya pun masih pelit berbagi apa yang saya miliki pada orang lain, sebab semua yang saya miliki adalah proses panjang saya dan tentu berharga, sayang sekali jika dengan nyah nyoh diberikan pada orang lain. Namun Rm. John sungguh memberikan semua yang ia miliki dan kami butuhkan dengan total. “Nyoh, kuberikan semua,” begitu kira-kira.

Maka, berbagi saja tidak cukup, berbagi itu harus dengan totalitas, membantu dan mengembangkan orang lain harus penuh totalitas, itulah nyah nyoh.

Perjumpaan

Rm. Petrus Sunu Hardiyanta SJ ketika berkunjung ke kantor BASIS sempat berkata, “Berjumpa saja harusnya sudah merubah.”

Dalam keseharian kita selalu berjumpa dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Jika bertemu orang miskin haruskah diperintah seseorang dulu, “Hei, tolong dia” baru kita menolong, atau dengan gerak batin langsung menolong. Jika bertemu orang hebat dan inspiratif, haruskah ia menyampaikan kata-kata dulu baru kita menjalaninya.

Seharusnya dengan melihat saja sudah menggerakan hati dan badan untuk melakukan sesuatu, meniru apa yang orang hebat lakukan sehingga menjadi demikian hebat, menolong dengan spontan pada orang lain. Namun yang terjadi adalah menyerahkan keputusan batin pada orang lain, aku hanya melakukan hal itu jika orang lain melakukannya.

Perjumpaan yang merubah adalah perjumpaan yang menggugah batin dan pikiran, dan hal ini memerlukan kerendahan hati untuk mau belajar dari siapapun, mau melakukan apapun yang baik bagi siapapun.

Tetaplah Rendah Hati untuk Nyah nyoh dan Ayahan dalam setiap Perjumpaan.

 

Yogyalarta, 11 September 2016
Widara Sankata

Mr. Share without Sharing


Menilik media sosial artinya menilik ruang-ruang pameran para penggunanya, yang kini dengan gamblang menampilkan aktifitas sejak bangun tidur sampai tidur lagi di ‘ruang pamer’ miliknya. Serasa berburu love instagram dan jempol facebook pada setiap yang di unggah.

Dalam ruang tanpa sekat bernama media sosial semua orang merasa ditelanjangi dengan ribuan mata yang bisa saja melihatnya. Anehnya, bukan ketelanjangan (keaslian tanpa kamuflase) yang ditampilkan, namun memakai ‘badan’ orang lain, melihat orang lain dan meniru dengan cara masing-masing, banyak orang yang tidak pede jika menjadi otentik diri sendiri, semua menjadi mengalir tanpa arah dengan meniru tren (orang lain).

Ketidakmampuan itu muncul dari tombol share, ‘wah, ini bagus, ku share ah’ dan percaya milik orang lain itu akan menjadi milik ku. Ironinya, apakah Mr. Share melakukan apa yang ia share? Apakah ia memang sedang mengecat rumah ketika share ‘Tips mengecat rumah’? atau ia memang sedang bertanam dan dengan itu mendapatkan informasi yang menarik lalu membagikannya?

Berbeda jika membagikan apa yang sesuai, jika ia arsitek maka tidak mengherankan media sosialnya penuh dengan kearsitekan, tapi kebanyakan membagikan apa yang tidak ia pelajari dan tidak ia lakukan, bayangkan dalam satu akun terdapat segala macam informasi, yang tidak jelas pula asal tulisan itu. Demi eksistensi justru banyak orang melakukannya, latah share, dengan mudahnya klik share supaya mungkin dianggap keren.

Menurut Maslow, kebutuhan macam ini masuk pada Kebutuhan Sosial, setelah Kebutuhan Fisik (makan dan minum) dan Keselamatan (tempat tinggal). Sedangkan kebutuhan akan pengakuan sosial ini masih berada dibawah Penghargaan Diri (akademik, percaya diri, dan sejenisnya) dan Aktualisasi Diri. Bahasa sederhananya adalah setiap manusia memiliki kebutuhan dasar yaitu makan dan minum, setelah mendapatkannya baru membutuhkan rasa aman, setelahnya adalah posisi dimana Mr. Share berada, kebutuhan akan pengakuan.

Sayangnya, pengakuan sosial ternyata tidak datang dengan cara Mr. Share, pengakuan itu datang dari apa yang dilakukan, sesuatu yang keluar dari dalam diri dan diberikan pada orang lain, bukan milik orang lain yang di klaim menjadi milik ku. Maka, jika seoarang merasa gagal dan sadar akan kesalahan ini, ia akan melangkah pada tahap selanjutnya yaitu Penghargaan Diri dengan cara yang lebih elegan, menampilkan sesuatu dari dalam diri. Namun tahap ini pun belum cukup, sebab gerakannya untuk melakukan sesuatu adalah tetap seperti tahap sebelumnya, pengakuan. Jika ia lolos dari tahap ini dan masuk pada Aktualisasi Diri maka tidak ada lagi rasa khawatir apa penilaian orang lain, hanya mengerjakan yang mengaktualkan dirinya.

Maka saya menulis Pembagi tanpa Berbagi, sebab jika sungguh berbagi maka kita memberikan apa yang kita punya. Sebab: Kita hanya bisa memberikan apa yang kita miliki.

Yogyakarta, 26 Agustus 2016
Widara Sankata

Bahasa Langitan


‘Air yang keruh hanya bisa dilihat dari luar’

Kritik yang sering dilontarkan sering kali membuat sakit hati, ‘kamu tahu apa tentang kelompok kami?.’ Padahal justru yang di luar lah yang bisa melihat ‘kekeruhan’ itu. Menjadi pengkritik memang ironi, karena tidak jarang kritikus itu hanya bisa omong kosong.

Kritik tentang pendanaan tapi tidak mencari dana, kritik tentang kegiatan tapi tidak berkegiatan. Yang dikatakan hanyalah ‘dulu kami’ dan anak muda yang masih aktif tidak berani membalas ‘jaman sudah berubah bung, saatnya anda istirahat’.

Pengkritik biasanya menggunakan bahasa langitan, bahasa yang jauh membumbung tinggi di langit. Mengucapkan teori-teori yang asing di telinga anak muda namun menimbulkan kekaguman, maka sering kali aktifisme itu dibarengi dengan bahasa langitan. Soal praktik siapa yang tahu.

Bahasa langitan yang saya maksud bukan hanya tutur kata yang menjulang, tetapi juga bahasa sebagai komunikasi, yang juga langitan. Sama halnya aturan yang berbeda di setiap keluarga, berbeda pula kekhasan setiap komunitas. Ada yang berkomunikasi dengan bahasa dan kultur kerja langitan  ada yang sebaliknya.

Kultur kerja langitan

Kultur kerja yang hobinya rapat, saya tidak anti rapat tetapi lebih senang dengan rapat yang efektif. Karena jika semua tim sudah berjalan dengan spirit yang sama maka tidak perlu banyak rapat, sebab semuanya sudah bekerja dengan tugas dan target masing-masing. Kultur kerja  langitan ini bekerja dengan keribetannya, energi dihabiskan untuk hal-hal yang tidak perlu. Kalau tidak ada acara berenang kenapa harus mempersiapkan alat renang? Kalau kegiatannya ringan dan hanya seminar kenapa harus membawa kartu kesehatan.

Kultur kerja langitan  itu sekiranya diciptakan oleh kaum tua yang bekerja dengan penuh kekawatiran, seperti orang tua yang bingung pakai LINE, padahal untuk anak muda: download-login-pakai. Sedang orang tua harus memahami dulu download, login. Maka bisa dibayangkan kultur kerja kaum tua dengan kaum muda.

Keduanya tidak ada yang salah, ketika ada jembatan yang jelas bagi keduanya dan kokoh maka akan terjadi kolaborasi yang luar biasa. Kita bisa mencontoh Rumah Perubahan Rhenald Kasali, kolaborasi yang apik antara profesional beda angkatan, segala paradigma, spirit, tujuan pergerakan ditanamkan oleh Prof Rhenald Kasali, tetapi banyak melibatkan anak muda.

Kolaborasi macam itu tak mudah, kerana sebagai senior harus sungguh sumeleh dengan pilihan-pilihan cara kerja anak muda yang kerap membuat geram. Padahal ketika arahnya jelas, sering cara anak muda lebih cepat dari kaum tua. Hanya saja ketidakpercayaan kaum tua pada anak muda, sehingga menjadikan anak muda sebatas eksekutor atau operator yang tak paham tujuan.

Menjelaskan rasa jeruk pada yang belum pernah makan jeruk

Semua tindakan dilakukan dari pengalaman dan pemahaman yang dimiliki, bagaimana bisa menjelaskan rasa jeruk pada yang belum pernah makan jeruk? Apakah kita bilang manis? Padahal manisnya beda dengan gula. Apa kita bilang kecut? Padahal kecutnya beda dengan cuka. Cara terbaik adalah menyodorkan jeruk “silahkan dimakan.”

Gap antara tua dan muda memang menyulitkan lebih-lebih anak muda untuk menjelaskan pemahamannya pada kaum tua, sering disepelekan, belum cukup kuat untuk membela pendapatnya, kurang persiapan sebelum mengajukan ide, sehingga mudah dipatahkan.

Misal, anak muda mengusulkan pendaftaran dengan google form, namun kaum tua tidak paham sehingga menolak. Pilihannya hanya mejelaskan pelan-pelan sampai paham atau melakukan dan tunjukan bahwa itu berbuah baik. Contoh ini baru soal teknis, belum soal cara kerja, pola pikir, ide, dan lainnya. Alih-alih yang muda berani berbuat, justru yang terjadi hanya menjadi operator dari ide kaum tua.

Pikiran bahwa anak muda kurang profesional bisa jadi benar, tetapi dengan memberikan anak muda ‘ruang’ kerja bukanlah pilihan yang menakutkan. Sebab seseorang yang dipercayai sesuatu diluar kemampuannya akan sungguh-sungguh mempertanggungjawabkan dan mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Jika mendampingi anak muda ya biarkan anak muda yang memberikan, sebab akan menggunakan bahasa yang sama, contoh yang sama-sama dialami, dan rentang umur yang dekat memotivasi ‘dia bisa, saya juga pasti bisa.’ Berbeda jika yang mengisi kaum tua dengan bahasa dan teori langitan, anak muda hanya terjebak pada kekaguman namun tidak bisa berbuat apa-apa.

 

Widara Sankata
Yogyakarta, 23 Juni 2016

 

Refleksi Saya, Untuk Saya Yang Terlalu Banyak Refleksi


319839_2717402674680_1216050131_n
Teluk Kiluan 2012

Saat berjalan di pasar yang riuh, Guru melihat talenta-talenta yang berkeliaran. Ada yang sedang memarkirkan mobil sang Guru, ada yang berjualan bunga tabur di selasar pasar, ada yang bertatto berdiri santai menghalangi jalan, ada yang banyak uang sedang makan enak, ada yang mengemis.

Layaknya 26 alfabet yang hanya bisa digunakan menulis dan berbicara jika kedua puluh enamnya ada, seperti semua orang yang Guru lihat di pasar yang riuh dan sangat multi tasking itu.

“Aku harus menyelamatkan jiwa mereka,” gumam Guru.

Mulai dari yang saudagar sampai yang bertatto, mulai dari tukang sapu sampai pamong pasar, mulai dari yang muda sampai yang tua, mulai dari yang polos sampai yang hebat, dikumpulkannya semua. Guru yang satu ini memang sangat hebat, melatih banyak orang yang sedemikian heterogennya, luar biasa.

Tentu, tidak semua yang dia hampiri bersedia dilatih, yang dilatih pun tak tentu lolos sampai tahap akhir. Ke dua puluh enam orang itu dilatihnya dengan tekun, mengerasi yang lembut, mengayomi yang keras. Pun sudah sedemikian tekun tak tentu juga semua bertahan cukup lama, sebagian kabur di tengah, sebagian merasa puas setelah merasa ilmu sudah diberikan semua, sebagian mengabdi pada Guru untuk melatih orang lain, ada yang setia ada yang sebosannya, namun Guru mengahargai semua, sebab Ia sudah melakukan ini ratusan kali yang berarti ratusan pergantian.

Saat saudagar bisa ngopi bareng dengan preman bertatto Guru senang, demikian pula senangnya melihat si bodoh percaya diri makan satu meja dengan murid paling pintar.

“Guru, engkau sungguh hebat, hatiku yang keras kini menjadi lembut”

“Guru, engkau sungguh baik, aku yang bodoh kau minta mewakilimu di pertemuan besar”

“Guru, engkau menyadarkanku akan imanku”

“Guru, guru, guru, guru,.”

Mendengar semua elu-eluan dari murid-muridnya yang sudah merasa terselamatkan dan puas itu, Guru tanpa ekspresi, senyum pun tidak. Ia hanya menyedekapkan kedua tangannya di perutnya yang agak buncit. Ia seperti senang sekaligus sangat gelisah. Setelah semua muridnya berbicara, Ia berpaling dan kembali ke pancuran Mbok Turah, tempat kesenangannya bermeditasi.

Melihat Guru tanpa tanggapan, semua murid saling bertatap dan salah seorang bercelecuk “Mungkin Guru lelah,” dan semua murid pun kembali mengerjakan pekerjaan pribadi mereka.

__

“Beberapa hari ini Guru tidak ada di biara,” kata salah seorang murid agak bingung.

“Aku tadi melihatnya di pasar, bersama segerombolan anak yang tidak berasal dari sini”

“Hah, dengan siapa Guru pergi, kita ini muridnya, kenapa Ia tak pergi dengan kita.”

Mereka menanti dengan cemas dan kecemburuan, sebab salah satu murid melihat guru sangat akrab bersama segerombolan anak yang entah siapa.

“Itu Guru”

“Guru dari mana saja? Kami mencari guru, hari ini jadwalnya kita berlatih Guru,”

“Saya dari pasar, kalian kan sudah saya ajari bahan latihan hari ini kenapa tidak berlatih sendiri?” jawab dan tanya Guru sangat sumringah.

“Kami menghargai Guru, Gurulah yang paling hebat.”

“Guru, kenapa Guru tidak mengajak kami ke pasar?”

“Maukah kalian bersamaku kemanapun? Siapkah kalian ku utus?”

Anehnya, tak ada yang menjawab. Semua ragu dan menundukan kepala. Lalu salah seoarang menjawab.

“Guru telah memungut kami dari jalanan, dari pasar, kini kami nyaman di biara ini. Kenapa kami harus kembali ke jalanan lagi sedangkan Guru sudah berjerih payah mendidik kami disini?”

Tanpa jawab, namun senyum guru sangat lebar sembari menepuk pundak muridnya itu, lalu meninggalkan mereka.

“Esok, pagi-pagi sekali, kumpulkan semua murid,” kata Guru yang mendadak berpaling lagi.

__

Murid-muridku, kalian adalah orang-orang terpilih, bukan sembarang orang.

Banyak seleksi natural yang kalian alami disini. Kini, aku akan menyampaikan pesan maha penting untuk kalian semua.

__

Kalian ku kumpulkan disini bukan untuk membuat manja, meski tempat ini nyaman untuk kita.

Kalian disini bukan untuk mengagumi, berterima kasih bahkan menyembahku.

Aku mengajari kalian berperasaan, namun jangan terlalu perasa sebab menjadikanmu terlalu berhati-hati.

Aku mengajari kalian berpikir mendalam, namun jangan selalu dalam, sebab perasaan yang dalam membutuhkan waktu yang lama dan kalimatmu terlalu berbelit-belit untuk orang lain.

Aku mengumpulkan kalian disini bukan untuk bergandeng tangan, tapi untuk kelak kalian berpencar.

Bahkan, kalian kini takut kembali ke tempat asal kalian dulu, pasar.

Kembalilah kesana, tolonglah semakin banyak orang dengan cara dan karakter kalian ketika bersamaku dulu. Jangan lalu menjadi sok suci disini. Aku melatih kalian untuk bekerja, bukan berperasaan dan terlalu banyak refleksi.

Apa perasaan kalian melihat pemindasan di tempat asal kalian? Atau hanya berharap mereka datang kemari?

Kita semua disini berlatih untuk bekerja, bukan berefleksi, sebab tidak akan ada yang selesai dengan refleksi.

Kalian jangan merasa pintar hanya dengan bisa berkata-kata yang lembut dan penuh makna, sebab kalian paling bodoh karena tidak bisa melakukan yang kalian katakan.

Orang miskin tetap miskin jika hanya kalian doakan, hampiri nereka, sentuh mereka, topang mereka.

Orang kotor akan tetap kotor jika kalian hanya bisa memandang dari jauh, dekati mereka, basuhlah.

Maha Guru kita adalah Maha Kuasa, Ia bisa saja mengatakan ‘sembuh’ dari kejauhan, namun apa yang Ia lakukan? Menyentuh setiap orang yang Ia sembuhkan.

#Catatan singkat saya, kejujuran saya terhadap diri saya yang kerap kali nyaman pada refleksi dan kedekatan pada Tuhan, saya lupa bahwa Iman itu harus dikerjakan.

Yogyakarta, 23 Maret 2016

Yohanes Bara

 

Ketuklah Pintu Saya, Kita Ngobrol-Ngobrol


Yogyakarta. Berkaitan dengan pergantian moderator di Pastoran Mahasiswa Yogyakarta, Kokerma (Komisi Kerasulan Mahasiswa) Yogyakarta, menggelar acara Pisah – Sambut di Wisma Mahasiswa, Jl. Dr Wahidin 54, Yogyakarta pada 21 Februari 2016. Berdasarkan surat keputusan Provinsial Yesuit Indonesia, Rm Bagus Aris Rudiyanto, SJ yang telah bertugas sebagai Moderator sejak 2011, kini di pindahtugaskan sebagai Pastor rekan di Paroki Santo Yusuf Batu Retno, Wonogiri.

“Saya sebenarnya kurang srek diutus ke paroki, tapi saya ingat kata Peter Hans Kolvenbach (Superior Jenderal Jesuit 1983-2008), ‘Biarlah ordo lain unggul dalam berbagai kaul, tapi Jesuit unggul pada kaul ketaatan’, jadi ketika Propinsial mengutus, saya jawab oke. Saya kira diutus ke paroki juga supaya berat badan saya turun.” Pungkas fans kesebelasan Barcelona ini disambut gelak tawa lebih dari 50 mahasiswa dan dosen se-Yogyakarta.

Kini yang bertugas sebagai moderator mahasiswa adalah Rm Yohanes Nugroho, SJ. Pastor yang akrab disapa Rm John Gowhere ini terbiasa bergelut dalam dunia orang muda sejak masih menjadi frater, “Rasanya saya ini memang ditakdirkan ngurusi orang muda selama 10 tahun terakhir,” ungkap Moderator Eucaristic Youth Movement Indonesia ini. Sejak ditahbiskan 2008, Rm John telah diutus ke Kolese Loyola Semarang, Kolese Kanisius Jakarta, Srilanka dan Pamong Kolese John de Britto sejak 2012 – 2016.

Pastor yang juga menjabat sebagai Koordinator Magis Asia Pasifik dan Promosi Panggilan Jesuit ini mengungkapkan bahwa ia sangat membutuhkan bantuan dari berbagai pihak. “Saya orang baru, tolong saya diajari karena saya tidak lebih tahu, mari kita bekerja sama untuk lebih banyak orang muda, khususnya di Jogja. Kalau perlu ketuklah pintu saya, kita ngobrol-ngobrol.” Ungkap pastor yang berasal dari Temanggung ini.

Sejak diputuskan menjadi moderator mahasiswa 1 Februari 2016, Rm John telah aktif mengajar pelajaran agama Katolik, selain itu pastor pecinta anjing ini telah mengunjungi kegiatan-kegiatan yang diadakan Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK), salah satunya misa pelantikan Ikatan Keluarga Mahasiswa Katolik Universitas Negeri Yogyakarta pada 19 Februari lalu.

“Orang muda senang disapa dan dikunjungi, tapi tentu tidak mudah mengunjungi semua KMK karena ada banyak sekali. Maka, saya akan mengundang semua pengurus KMK, lalu didampingi sesuai kebutuhan mereka. Nah, kendalanya Wisma Mahasiswa belum punya data KMK dan pengurusnya. Jejaring lintas KMK ini yang perlu diupayakan.” Tutup Rm John.

Yohanes Bara

Keyboard Tanpa Komputer


keyboard

“Sudah pernah belajar komputer?” Tanya Fr Joni, SCJ.

“Belum Frater,” jawabku singkat.

“Tunggu sebentar ya,” pintanya untuk menunggu di belakang Novisiat St. Yohanes Gisting. Sisi tembok dalam ada dapur dan ruang makan besar, sisi luar selepas mata ada lapangan badminton yang juga ada ring basket di kedua sisinya, juga ada lapangan voli di sebelahnya.

Tempat ini berada di kaki gunung Tanggamus, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Kurang lebih 87 kilometer dari Kota Bandar Lampung. Di tahun 2006, saat aku kelas 9 SMP Xaverius, tempat ini masih sangat sejuk, hampir setiap pagi kabut selalu menemani berangkat sekolah. Kecamatan ini banyak sekai menghasilkan sayuran untuk orang kota. Sejak awal, kelas 9 SMP sampai lulus SMA St Pius, aku tinggal di Mbah Mujiwan, seorang yang luar biasa hebat.

Tak lama ia kembali lagi dengan menenteng keyboard berwarna putih kecoklatan, entah masih bisa digunakan atau tidak aku tidak tahu.

“Nih, kamu bawa pulang, di rumah, kamu ketik nama kamu, kamu cerita tapi diketik disini,” arahnya.

“Hanya keyboard?” tanyaku.

“Ya, ketik dan bayangkan ada monitornya,” jawabnya lagi.

“Minggu depan kalau sudah lancar kesini lagi,” tambahnya.

Kutenteng keyboard tanpa  mouse, tanpa cpu, tanpa monitor ini. Sesampai di rumah yang hanya berjarak 200 meter di seberang novisiat, aku masuk kamar dan mulai mempraktekannya.

“Saya Yohanes Bara Wahyu Riyadi, sekolah di SMP Xaverius Gisting. Saya Yohanes Bara Wahyu Riyadi. Yohanes Bara Wahyu Riyadi. Yohanes Bara Wahyu Riyadi. Yohanes Bara Wahyu Riyadi.” Ketikku seperti orang gila, entah berapa kali banyaknya. Hal ini hampir kulakukan setiap hari, sampai suatu saat Cornelius Vilardi, cucu pemilik rumah yang juga teman sekamarku melihatku, “Eh, ngopo e koe Yu?” tanyanya dengan muka keheranan sedikit aneh.

Semingu kemudian aku kembali, minggu berikutnya kembali lagi, lagi dan lagi. Meski rajin belajar hal baru buatku, tetap saja kalah dengan mereka yang di rumahnya punya komputer. Bahkan aku sering minder saat sama sekali tidak bisa membuat word art di Microsoft Office Word, apalagi saat sesi Microsof Office Excel.

Belajar, untuk seorang kaya dan mapan merupakan habitus atau kebiasaan hidup, ketika dia pindah belajar ke sekolah, ia hanya butuh penyesuaian kebiasaan, karena ia sudah terbiasa dengan belajar. Tapi saya sebelumnya bukanlah pembelajar, sering bolos sekolah, saya tidak punya kebiasaan belajar paling tidak selama 2 tahun sebelumnya di Bandar Jaya, Lampung Tengah.

Maka, sekolah merupakan tempat asing buat saya, belajar merupakan kebiasaan baru buat saya. Seorang yang belum memahami konsep belajar tentu tidak bisa belajar. Tidak akan bisa belajar mengendarai mobil kalau tidak tahu konsep kerja mobil.

Itu bedanya kamu yang punya habitus belajar di rumah dengan mereka yang tidak punya habitus belajar, dan apakah kalian akan sama jika disatukan dalam satu kelas yang sama? Itulah yang sama alami.

SMP dan SMA saya bukanlah anak yang pandai bergaul, Mbah Mujiwan sangat melindungi saya dari pergaulan yang salah, jangankan ketahuan merokok, ketahuan pulang jalan dengan perempuan saja, sepulang sekolah pasti saya dinasehati habis. Jika saya pulang terlambat, pertanyaan sangat detil selalu dilontarkan, dengan siapa, ngapain, dimana. Jangankan salah berteman, kegiatan mudika saja kalau terlalu sering saya akan dibatasi. Saya tidak punya celah untuk salah berteman.

Saya ingin berubah!

Seberapa minderkah saya ketika itu?

Saya bukanlah anak yang pandai tapi saya dimasukan ke kelas unggulan karena rekomendasi dari Br. Yohanes, SCJ, ayah angkat saya. Alhasil saya sering nyontek. Buat teman-teman saya yang hobi nyontek lainnya, tak masalah, karena mereka punya bakat homor dan musik, mereka bisa bersembunyi dibalik bakatnya itu, saya tidak punya apa-apa. Saya jadi anak cupu di kelas, meski saya berani berkelahi dengan ‘preman’ sekolah yang merebut gelang saya, tapi kini kami bersahabat.

Saya senang basket, jika ada teman, sore hari saya bermain basket di lapangan sekolah. Bagaimana kalau ada ‘anak basket’ datang? Saya mlipir, lalu pulang. Saya minder sekali melihat dia jago main basket.

Di hari minggu saat bulan puasa, pagi hari banyak sekali orang yang lari pagi, termasuk saya. Bagimana kalau saya bertemu dengan ‘gadis idola’ sekolah? Saya bersembunyi karena takut kalau diajak ngobrol.

Setiap ada pertemuan mudika saya hampir selalu diam.

Tahun 2009, saya kira semua kebaikan Papa menyekolahkan saya berakhir. Tapi saya bersyukur ternyata masih dikuliahkan di STIE Gentiaras Lampung.

Titik baliknya adalah, saya merasa sangat diberkati Tuhan, merasa sangat dicintai Papa dan keluarga atas apa yang sudah saya dapatkan selama ini, terlebih teladan-teladan yang sangat baik.

Ini kesempatan saya untu menjadi pribadi yang baru, di kampus ini tidak ada satupun yang kenal dengan saya, tidak ada yang tahu saya minder, tidak ada yang tahu SMA saya di tengah kebun kopi. Sekalipun saya jadi mahasiswa yang aktif, mereka pasti mengira saya aktif sejak di sekolah.

Maka, sejak masa orientasi mahasiswa baru, saya bertekad untuk menjadi pribadi baru. Saya aktif bertanya meski itu tidak gampang, saya tulis lengkap apa yang ingin saya tanyakan, meski akhirnya tidak cukup percaya diri untuk bertanya. Bagaimana bisa anak yang gemar mencontek, dan pergi ketika anak basket datang tampil di tengah-tengah mahasiswa baru? Seingat saya itu tidak mudah. Yang mebuat mudah adalah gadis yang mempesona saya dari bangku urutan dua dari depan sebelah kanan, saya ingin mempesonanya dengan penampilan saya.

Berani bertanya saat sesi saja sudah prestasi yang cukup untuk saya, ternyata saya dapat penghargaan, walau sepele penghargaan ini luar biasa buat anak cupu macam saya. Saya didapuk menjadi King STIE Gentiaras 2009, King & Queen merupakan penghargaan untuk mahasiswa dan mahasiswi terbaik dalam masa orientasi, penilainnya: keaktifan saat sesi, hubungan dengan sesama mahasiswa lain, tertib aturan dan tepat waktu. Saya berhasil, ya, saya berhasil. Selamat tinggal anak cupu.

Singkatnya, selama 2009 – 2013, saya menjabat, Koordinator Komunitas Mahasiswa Katolik Lampung, Koordinator  Panorama OMK Radio Suara Wajar, Koordinator Bidang Pengembangan Organisasi STIE Gentiaras, Biro Komunikasi PMKRI. B. Lampung dan beberapa kali pelatihan ke Jawa.

Dari beberapa pencapaian kecil itu, yang spesial adalah Ketua UKM Jurnalistik Karintas dan Kontributor Majalah Nuntius merupakan sekolah pertama saya belajar jurnalistik, lebih tepatnya, Nuntius yang ketika itu dipinpin oleh Mbak Yuli Nugrahani mengajari saya cara berladang, lalu karintas adalah ladang saya mempraktekan ilmu itu. Ini berkat keyboard bekas.

Keyboard bekas itu sempat mengantarkan saya pada seleksi Harian KOMPAS,

Seleksi pertama adalah Wawancara, kemudian Tes Bidang, seleksi ini menentukan bidang apa yang saya kuasai, pertanyaannya sangat detil, “Tahun  berapa MU pertama kali menang Liga Inggris, siapa pencetak golnya?, anggota Negara bagian Malaysia?, dll,” Pengetahuan umum tapi sangat detil. Tes ketiga adalah tes Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Keempat adalah Psikotes. Dan terakhir tes kesehatan.

Saya belum berhasil lolos di seleksi ke empat dari lima seleksi, psikotes.

Meski belum lolos tapi saya tetap konsisten di dunia jurnalistik, alih-alih menjadi wartawan KOMPAS saya malah mendapat mentor pribadi yang merupakan filsuf, sastrawan, budayawan dan wartawan senior KOMPAS, Sindhunata, SJ.

Keyboard bekas itu mengantar saya sampai bekerja di BASIS, UTUSAN dan ROHANI.

Kini saya sedang menulis 2 buku, pertama adalah novel kisah bersama Stefani Celiana dan kedua adalah buku Raga Widya tentang metode pelatihan orang muda yang saya tulis bersama Elisabet Widya Rahma.

Yogyakarta, 11 Maret 2016

Yohanes Bara

 

Cikal Bakal Magis Asia Pasifik


Magis merupakan program pengolahan hidup bagi orang muda melalui Spiritualitas Ignatian selama satu tahun. Magis di Indonesia bermula ketika para biarawati Faithful Companions of Jesus (FCJ), mempersiapkan wakil Indonesia untuk berangkat ke World Youth Day di Sidney, Australia Juli 2008. Kemudian dilanjutkan oleh Rm Yohanes Nugroho, SJ atau yang biasa disapa Rm John, yang kini menjadi Koordinator Magis Indonesia.
Inti dari pengolahan hidup dalam Magis adalah Latihan Rohani Santo Ignasius yang disesuaikan dengan kebutuhan orang muda yaitu Spiritualitas Ignasian “Dari Inigo ke Ignasius”, Sejarah Hidup, Asas Dasar, Pembedaan Roh, Panggilan Raja dan Dua Panji, Helping Soul, Kontemplasi Mendapatkan Cinta, Ignasian Leadership dan ditutup dengan Peregrenasi selama 3 hari pada akhir program.
Komunitas yang terpusat di Yogyakarta dan Jakarta ini kemudian dipresentasikan oleh Rm John dalam Jesuit Asia Pacific Conference (JCAP) tahun 2014, hal ini kemudian disambut baik JCAP dengan meminta Magis Indonesia memberi pelatihan untuk pembentukan Magis di negara-negara se Asia Pasifik.
Rm John bersama alumni Magis kemudian membuat Magis Asia Pacific pada 26 Desember 2015 – 3 Januari 2016, di Omah Petroek, Kaliurang, Yogyakarta. Kegiatan yang bertajuk Ite Inflammate Omnia : Go and Set The World on Fire (Pergilah dan kobarkanlah dunia) ini dihadiri oleh Kamboja, China, Korea, Myanmar, Thailand dan Timor Leste.
“MAGIS memiliki visi, menginspirasi orang, membentuk struktur organisasi dan jaringan di seluruh Asia Pasifik. Banyak orang yang bekerja sama untuk mendukung visi Magis, terutama Jesuit. Kami ingin belajar dari Anda, para peserta Magis Asia Pasifik agar bisa lebih fleksibel, lebih terbuka dan siap untuk memenuhi kebutuhan zaman masa kini.” Ungkap Romo Mark Raper, SJ, Presiden JCAP. Rm Mark menjelaskan lebih lanjut bahwa  peserta Magis Asia Pasifik memiliki begitu banyak kesamaan, dan sedang dalam  tahap penting dari perjalanan hidup sebagai orang muda. Kita melihat dunia yang sedang porak-poranda dengan kemiskinan, begitu banyak konflik di dunia, rumah bersama. Jika bergerak masing-masing maka akan sangat berat, maka Magis Asia Pasifik merupakan kesempatan besar untuk saling belajar dan mendukung satu sama lain.
Hye ra Ko (22) dari Korea,  mengungkapkan bahwa spiritualitas Ignasian sangat cocok untuk orang yang hidup di era sekarang. Spiritualitas ini tidak berbicara tentang Allah jauh dari kita, tetapi Allah dalam kehidupan sehari-hari. Dan spiritualitas ini mengajak kita tidak hanya untuk menyadari Tuhan, tetapi juga tahu tentang diri sendiri melalui pengolahan sejarah hidup bersama Tuhan. Dan terutama refleksi, merupakan cara ampuh mengetahui kemana Tuhan ingin membawa kita.
Materi-materi yang diberikan sebagian besar diberikan oleh alumni Magis Indonesia, pun peregrenasi (berjalan kaki) tanpa uang dan tanpa bekal dilakukan bersama Magis Indonesia, hal ini yang dialami
Geny Anggara Pramana Jati (23) yang melakukan peregrenasi sejauh ke 70 km menuju Gua Maria Tawangmangu bersama Rm Sakda SJ dari Thailand, Lim dari Korea, dan Evan dari Timor Leste.
Kanta Sooksatra (23) menceritakan refleksi peregrenasinya dari Omah Petroek menuju Gua Matia Kerep, Ambarawa. “Kami mengemis untuk mendapatkan makanan dan tempat untuk tidur. Saya sangat bersyukur atas kemurahan hati mereka. Kemudian saya menyadari, kenapa saya justru bersyukur dengan banyak orang baru yang baru saja saya temui di jalan. Kita terkadang lupa dengan kebaikan keluarga di rumah yang selalu menyayangi, mencintai, merawat dan membantu kita.” Ungkap wakil dari Thailand ini.
Pegrenasi dalam program Magis merupakan sarana untuk sungguh bertemu dengan Allah, menempuh perjalanan jauh tanpa tanpa bekal uang dan makanan, sehingga hanya berserah pada Allah, pada pertolongan Allah untuk memerikan makan melalui orang yang tidak dikenal, percaya penuh pada Allah akan keselamatan di tempat yang asing tanpa orang lain. Pengalaman mencari Allah dalam segala hal semacam inilah yang ingin ditanamkan Magis kepada banyak orang muda.
“Dari pengalaman Magis Asia Pasifik ini, saya ingin membantu Magis Kamboja, untuk berbagi dengan banyak orang muda mengenai Spiritualitas Igansian melalui Magis. Agar bersama semakin banyak orang muda mengenal Allah dan melakukan lebih banyak untuk kemulian Allah, “ kenang Samnang Nob (28). Hal senada disampikan oleh Rm John yang mengharapkan melalui Magis Asia Pasifik dapat mengembangkan Magis di berbagai Negara di Asia. “Baru Indonesia yang mempunyai Magis, kalau Roh Kudus berkehendak maka tidak ada halangan untuk terbentuknya Magis di Negara lain.” Ungkap Pamong Kolese John De Britto Yogyakarta ini.

Magis JCAP 2015 (Video)

Majalah UTUSAN Februari 2016 – Yohanes Bara

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Desolasi (Kesepian Rohani)


Dalam pengalaman doa, seseorang dapat mengalami dua keadaan: (1) Desolasi/kesepian rohani: Orang yang perlahan makin jauh dari Tuhan, dan terjebak dalam dosa yang makin dalam;  dan (2) Konsolasi/hiburan rohani: Maju mendekat pada Tuhan, yaitu orang yang memiliki hubungan makin akrab dengan Tuhan, dan terus memperbaiki dirinya.

Tak selamanya seseorang mengalami pengalaman doa yang selalu sama, baik desolasi maupun konsolasi. Dimanakah Tuhan ketika kita mengalami kesepian yang amat mendalam? Dimanakah Tuhan ketika kita terpuruk dalam kelemahan? Ketika kita dalam penderitaan, masihkah ada Tuhan di sekitar kita? Pertanyaan macam ini sering kali kita teriakan dalam hati ketika berdoa.

Dalam Latihan Rohani (LR) 317, Ignatius mengatakan, kesepian rohani adalah keadaan batin seseorang yang tampak dalam kecenderungan menjauh dari Tuhan. Hal ini dapat menggejala antara lain dalam menipisnya iman, harapan, dan kasih. Juga tampak pada kekacauan batin yang membuat orang berbuat hina dan mencari hal-hal duniawi, kenikmatan duniawi, kehilangan tanggung jawab, kekacauan membedakan yang pokok dan yang sampingan.

Dalam perjalanan Latihan Rohaninya di hari 1 – 7, Ignasius mengalami kelelahan, putus asa, dan  kesendirian. Namun, kesetiaan dan keteguhan imannya dalam sepi itu yang justru berbuah dan meyakinkan ia bahwa Tuhan hadir. Dalam kesepian iman, Tuhan tetap hadir untuk menemani manusia, agar berani masuk dalam kenyataan ‘gelap’ dari kehidupan yang pernah dialami. Dalam kesendirian dan kesepian iman, seseorang akan mengalami rasa takut, karena hanya berhadapan dengan dirinya sendiri, yang sering kali dirasakan penuh dosa dan kesalahan.

Desolasi bukanlah sekedar perasaan sedih atau kesepian. Seseorang bisa nampak gembira, namun sebenarnya sedang mengalami kesepian rohani yang luar biasa. Karenanya, seseorang yang sedang mengalami desolasi cenderung melakoni dan mengejar kebutuhan duniawi, seperti kegembiraan semu melalui hiburan malam, bersenang-senang dan lain sebaginya. Sebab, jika ia diam maka ia makin dalam merasakan kesedihan dalam desolasi.

Pada waktu desolasi seperti ini, jangan sekali-kali membuat perubahan, tetapi teguh dan tetap dalam niat dan keputusan yang dipegang pada hari sebelum desolasi, (lih LR. 318). Dalam desolasi biasaya orang sulit mempertimbangkan sesuatu secara tenang dan matang, sehingga keputusannya sering kali tidak tepat. Dalam kondisi ini juga roh jahat lebih dominan dalam diri manusia, sehingga apapun keputusan yang di ambil akan salah.

Ignatius menganjurkan setiap orang yang mengalami desolasi untuk berjuang mengubah diri menghadapi kesepian. Dengan melakukan beberapa hal berikut: Pertama, Agere Contra (Latin: Bertindak melawan atau bertindak sebaliknya), yaitu semangat  melawan kecenderungan diri yang mulai malas, dengan berjuang secara tabah dan sabar. Jika seseorang semakin malas berdoa dan mencari kesenangan pribadi, maka orang itu harus menambah waktu berdoa dan matiraga. Jika orang diganggu untuk menjadi pemarah, ia harus berusaha menghentikan dan mengendalikan amarahnya. Melawan sikap dan sikap yang mengarah pada keburukan dengan melakukan hal sebaliknya. Kedua, orang yang mengalami desolasi, diajak untuk lebih tekun berdoa, meditasi, dan matiraga. Meski berat, semua itu perlu dilakukan agar kita tidak mencari kesenangan semu yang semakin menjauhkan dari Allah. Melalui doa, manusia dipersatukan dengan Allah, dengan demikian Allah sendirilah yang memberikan kekuatan. Ketiga, dalam kesepian dapat pula merenungkan betapa manusia tanpa Allah tidak dapat berbuat apa-apa, tanpa bantuan Allah kita tidak dapat mengatasi kesepain itu.

Yohanes Bara
Pringgokusuman, 10 Februari 2016

 


 

Magis
Go Set the World on Fire

Magis artinya bukan sihir atau magic. Arti Magis adalah ‘lebih’. Istilah Magis sendiri digali dari motto Jesuit “Ad Maiorem Dei Gloriam”,  ungkapan bahasa Latin yang berarti “Demi Kemuliaan Tuhan Yang Lebih Besar”, motto ini berakar dari jiwa dan samangat Latihan Rohani: Apa yang telah saya lakukan untuk Tuhan?

Apa yang sedang saya lakukan untuk Tuhan?

Apa yang akan saya lakukan untuk Tuhan?

Dengan begitu, Magis berarti sesorang yang mau berbuat lebih, tidak suam-suam kuku. Tetapi dengan kemampuan penuh mau mencari dan mewujudkan kehendak Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Gambaran semangat Magis bisa kita simak dari pertanyaan Ignatius kepada Lainez, sahabat dekatnya. Seandainya Allah menawarkan pilihan: sekarang ini juga wafat dan masuk surga, meski kehilangan kesempatan untuk berkarya bagi sesama. Atau,

Diberi kesempatan bekerja bagi kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa-jiwa, dengan resiko gagal, dan karenanya lalu belum tentu selamat. Manakah yang dipilih. Lainez memilih yang pertama, kepastian akan keselamatan. Ignatius berbeda, ia memilih yang kedua.

Spiritualitas Ignasian dalam semangat Magis adalah bentuk kerohanian yang membawa kita masuk dalam dunia resiko, bukan sekedar spiritualitas yang mencari jalan aman, sekedar mencari keselamatannya sendiri. Meski tidak ada jaminan keberhasilan namun  spiritualitas tersebut lebih berbicara tentang kesetiaan, sebagaimana dikatakan Ibu Teresa, Tuhan memanggil bukan untuk sukses, melainkan untuk setia. 

Magis, dengan demikian, lebih ditempatkan bukan dalam kategori ‘lebih’ dalam usaha dan hasil, namun ‘lebih’ dalam semakin menapaki jalan panggilan  Kristus, ‘lebih’ dalam semakin menyerupai Yesus, sebagaimana nyata dalam Latihan Rohani. Maka Magis adalah ‘lebih’ dalam semakin mencapai tujuan kita (manusia) diciptakan.

Semangat Magis membawa kita bergerak, terus mencari, sehingga disebut, kita adalah para peziarah, bukan tipikal orang yang ‘mandeg’, yang tidak bertanya dan tidak gelisah. Bukan tipikal orang yang suka duduk manis, puas dengan biasa-biasa saja atau dengan yang biasanya belaka.  Semangat Magis mendorong kita untuk berani lelah dan ‘sakit’, berjuang dan ‘gagal’.

Makna Magis secara khusus nampak di dalam pemilihan dan pengambilan keputusan. Ketika persoalan memilih itu dihadapkan pada dua pilihan antara yang baik dan yang biasa, maka pilihan kita menjadi jelas. Pilihan yang baik seyogianya dipilih. Namun, apa yang mesti dilakukan oleh orang apabila yang dipilih adalah antara yang baik dan yang baik. Di sinilah semangat Magis itu nampak. Ketika orang memiliki pilihan antara dua hal yang baik, masalahnya adalah mencari dan mendapatkan pilihan yang terbaik. Jadi, tujuan dari semangat Magis adalah menghayati hidup dalam relasi yang dekat dengan Allah sehingga kehendak Allah dapat dengan lebih mudah dan lebih jelas dipahami dan diikuti.

Magis membawa kita “menemukan Allah dalam segala sesuatu”.  Di dalam segala yang kita temui, dengan segala apa yang terjadi pada kita, kehadiran Allah itu dapat dijumpai: di dalam segala aktivitas, di dalam diri setiap orang yang kita jumpai, di dalam relasi, di dalam pikiran, di dalam mimpi kita, di dalam pandangan, di dalam situasi, dalam peristiwa-peristiwa dan apa saja yang datang kepada kita. Dengan kata Magis, kita berbicara tentang menemukan kehadiran Allah dalam segala realitas.

Majalah UTUSAN Januari 2016 – Yohanes Bara

 

Lika-liku Menanamkan Cinta


 

Duta Magelang
Juliana Pramesti Dyah Kumalasari – Duta Wisata Kota Magelang 2015

Sejak dini hari, raung suara mesin sudah terdengar di sentra industri tahu Desa Tidar Campur, Magelang. Kepulan asap membumbung dari rumah-rumah produksinya. Para pekerja terlihat sibuk hilir-mudik mengangkut kayu bakar ke perapian, mencetak tahu, memotong-motong, dan memasukkan tahu-tahu yang sudah jadi ke ember-ember besar untuk dikirim. Industri ini memang memberi penghidupan yang lumayan bagi warganya. Namun sayang, limbahnya belum dikelola dengan baik. Udara di sekitar pabrik itu panas dan pengap, aroma menyengat tak terhindarkan, dan limbah cairnya pun mengalir ke mana-mana tak tentu arah.

Di wilayah ini, pada siang hari, jam sekolah, anak-anak dibiarkan bermain, berkejar-kejaran di antara gang-gang kecil pabrik tahu tempat orangtua mereka bekerja. Di sini, sebagian besar orangtua memang tidak peduli pada pendidikan anaknya. “Ah, biar saja main-main. Ndak sekolah tidak apa-apa, yang penting nantinya bisa cari uang,” kata salah seorang ibu.

Adalah Juliana Pramesti Dyah Kumalasari (22), akrab dipanggil Mesti, prihatin atas situasi desanya ini. Pada saat menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Universitas Negeri Yogyakarta pada tahun 2014, bersama teman-teman kelompoknya, Mesti merintis PAUD Tunas Bangsa. Awalnya, para warga hanya memandang sebelah mata kegiatan ini. “Untuk apa membuat kegiatan macam itu. Tidak ada gunanya,” celetuk salah seorang ibu.

Banyak tantangan yang harus dihadapi Mesti dan teman-temannya. Karena tidak ada dukungan dari warga, mereka pun patungan untuk menyewa rumah warga. Anak-anak yang ikut pun awalnya hanya lima. “Kami mendatangi rumah warga satu per satu untuk mengajak anak-anaknya. Syukurlah ada lima anak yang mau,” kata Mesti berkisah. Seiring berjalannya waktu, anak-anak yang tertarik untuk ikut pun makin banyak. PAUD Tunas Bangsa pun makin berkembang dan menarik perhatian aparat kelurahan. Kegiatan ini kemudian mendapat bantuan dana dan ruang.

Tak berhenti pada bidang pendidikan, Mesti yang menjadi pemenang Duta Wisata Kota Magelang 2015ini pun meluaskan kegiatan sosialnya. Ketika terpilih sebagai nominasi, ia mempresentasikan situasi dan program pemberdayaan masyarakat. Berkat upayanya ini,

Desa Tidar Campur kini dijadikan desa wisata oleh pemerintah Kota Magelang.Untuk itu, desa ini mendapatkan banyak dana untuk perbaikan sanitasi, pembangunan bank sampah, dan pengembangan Desa Tidar Campur sebagai kampung organik.

Meski demikian, putri dari C. D. Tamtama, S. Pd. (50), guru Seni Budaya SMPN 1 Tempel, Sleman, Yogyakarta dan Fransiska Pancawati Puji Rahayu, S. Pd. (50), guru Bahasa Indonesia SMAK Tarakanita ini tidak begitu saja puas dengan upaya dan kemajuan desanya. Ia masih melihat ada banyak warga membuang sampah dan limbah sembarangan. Ia berharap, kesadaran itu makin lama makin tumbuh dalam hati masyarakatnya, sehingga program pemberdayaan dan prasarana yang diberikan pemerintah dapat sungguh-sungguh berguna untuk kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itulah, demi menanamkan cinta lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan, gadis yang mahir nembang Jawa ini ingin terus mengembangkan mengembangkan pendidikan.

Majalah UTUSAN Januari 2016 – Yohanes Bara